Dengar bisikanku wahai pujakan hati,
Di tengah riak takdir yang
terus membayang.
Rasa untukmu bukanlah
sekadar mimpi,
Melainkan kehangatan yang
tak ingin sirna menghilang.
Aku tahu kita berdiri di tanah yang gamang,
Di bawah bayang-bayang
ikatan yang belum usai.
Namun ketahuilah, cintamu
bagai fajar yang datang,
Menuntunku keluar dari malam
yang sunyi dan sepi.
Tak pernah sedikit pun kau kumaksudkan jadi rahasia,
Atau sekadar singgah di
balik pintu yang samar.
Jiwaku merindukanmu dengan
segenap asa,
Ingin kubawa cintamu ke
dalam ikatan yang murni dan benar.
Ingin kuhalalkan setiap dekap dan jemari,
Berjalan bersamamu di bawah
ridho Semesta.
Menjadikanmu pendamping sah
dalam ikatan suci,
Tanpa ada keraguan, tanpa
ada duka atau rasa terpaksa.
Maafkan aku jika waktu membuatmu menanti,
Di antara bimbang yang
kadang menguji kesabaran.
Bukan karena ragu akan
rasaku padamu yang sejati,
Namun karena ada janji lama
yang harus kuselesaikan dengan kebaikan.
Kau bukan sekadar pelarian atau penawar sepi,
Kau adalah belahan jiwa yang
kutemukan di kemudian hari.
Menggetarkan sudut dada yang
dulu sempat mati,
Memberi warna baru pada
hidup yang hampir menyendiri.
Genggamlah tanganku, percayalah pada rasa ini,
Aku sedang berjuang mencari
jalan yang terang.
Agar tak ada hati yang
hancur dan terlukai,
Saat kubawa dirimu menuju
rumah kita yang tenang.
Jangan ragukan ketulusan cinta yang kupunya,
Namamu selalu kusebut dalam
setiap doa malamku.
Memohon agar takdir
membukakan jalannya,
Untuk menyatukan kita dalam
keabadian yang bersatu.
Tunggulah aku di ujung perjuangan rasa,
Sebab kebahagiaanmu adalah
tujuan akhir langkahku.
Kuhalalkan cinta ini demi
kehormatan dan asa,
Menjadikanmu satu-satunya
ratu di masa depanku.
Hingga saat itu tiba, tetaplah di sisiku,
Menjadi pencerah di setiap
gelisah yang melanda.
Cintaku padamu adalah janji
yang takkan membeku,
Sebab padamulah, kukanjatkan
seluruh sisa jiwa.



